Posted on Leave a comment

Perbedaan Minyak Padat vs Shortening No ratings yet.

Apa tersebut minyak padat? Minyak padat memiliki faedah sama laksana minyak goreng. Hanya saja bentuknya padat. Sebelum dipakai menggoreng, minyak padat mesti dilelehkan terlebih dahulu dengan lumayan ditaruh dalam wajan di atas api kompor yang menyala.

Awalnya, ketika teman saya menganjurkan hal tadi, saya langsung beranggapan kalau minyak padat sama saja dengan shortening atau mentega putih yang biasa digunakan untuk menciptakan buttercream. Namun ternyata minyak padat dan shortening tersebut berbeda. Meski sekilas dua-duanya terlihat serupa, kamu akan dapat menemukan sejumlah perbedaan diantaranya bila lumayan jeli. Yuk, simak informasi selengkapnya di bawah ini.

Bahan pembuatan

Shortening tercipta dari 100% lemak nabati, hewani, atau gabungan dari keduanya. Secara umum, shortening terbagi ke dalam dua jenis, yakni berbentuk solid (padat) yang sangat umum ditemukan di Indonesia dan berbentuk liquid (cair) yang lebih familiar dipakai dalam dunia industri.

Solid shortening terbagi lagi ke dalam sejumlah macam seperti: white fat (biasa dipakai sebagai untuk menciptakan roti tawar), cake fat (untuk kue), bakers fat (untuk buttercream), dan pastry fat atau korsvet (untuk pastry).

Sama laksana minyak goreng pada umumnya, minyak padat tercipta dari lemak nabati yakni minyak kelapa. Oleh karena itu, minyak padat ini sebetulnya masuk dalam kelompok shortening. Namun sebab fungsinya bertolak belakang jauh, yakni menggoreng bukannya untuk menciptakan kue, roti, dan pastry, maka dua-duanya dikategorikan terpisah.

Tekstur

Karena sebetulnya masih satu jenis, tekstur shortening dan minyak padat itu nyaris sama. Namun bila diacuhkan lebih seksama, shortening bertekstur padat layaknya mentega pada umumnya. Sementara minyak padat khusus guna menggoreng ini bertekstur lembut laksana krim.

Rasa dan Aroma

Baik shortening ataupun minyak padat sama-sama tidak beraroma dan berasa sampai-sampai tidak mengolah citarasa pribumi makanan. Terkecuali guna shortening jenis cake fat, karena seringkali cake fat telah diberi ekstra rasa, warna, dan wewangian sesuai fungsinya.

Kegunaan

Sejak dulu, shortening atau mentega putih biasa dipakai sebagai bahan gabungan dalam pembuatan ragam pastry. Fungsi utama dari shortening ini ialah memperpendek atau menyimpulkan ikatan gelatin yang terbentuk pada gabungan air dan terigu, sampai-sampai tekstur kue menjadi lebih renyah. Bagi jenis shortening lainnya, kegunaannya berbeda. Seperti cake fat yang bermanfaat memberi rasa dan wewangian pada kue, atau pastry puff yang bermanfaat memberi lapisan pada puff pastry.

Sesuai dengan istilahnya, frying fat atau minyak padat hanya dipakai untuk menggoreng makanan (deep fry) dan tidak dapat digunakan untuk menciptakan kue, roti, dan pastry. Salah satu kelebihan minyak padat dibanding minyak goreng biasa yaitu dapat membuat masakan lebih cepat matang, renyah, tidak berbau apek, tidak menyisakan jelantah, dan tidak terlampau berminyak atau menyerap ke dalam makanan.

Jenis makanan yang biasa digoreng dengan minyak padat ialah seperti donat, churos, ayam goreng balut tepung, kentang goreng atau french fries, keripik, dan makanan beda yang digoreng dengan kiat deep frying.

Sekarang telah jelas dong perbedaan antara minyak padat dan shortening. Setelah ini, kamu dijamin tidak bakal keliru membedakan dua-duanya saat bakal menggunakannya.

Please rate this

Posted on Leave a comment

SIAL Interfood Expo 2019 No ratings yet.

Pameran industri makanan dan minuman berskala internasional bertema Salon International de I’alimentation atau Sial Interfood bakal dihelat di Jakarta. Pameran yang dilangsungkan di Jakarta International Expo Kemayoran, pada 13-16 November 2019, bakal dihadiri peserta sejumlah 880 perusahaan dari 30 negara. Jumlah peserta bertambah dibanding tahun lalu.

“Jumlah peserta bertambah 9%-10% dikomparasikan tahun lalu,” kata Daud D Salim, CEO PT Kristamedia Pratama, perusahaan pelaksana pameran, di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (11/11). (Baca: Setelah Indomie, Kemenperin Dorong Produk Kopi RI supaya Dikenal Dunia)

Peserta Sial Interfood itu terdiri dari negara laksana Australia, Argentina, Tiongkok, India, Jerman, Mesir, Perancis, Saudi Arabia, Turki, USA, Yunani, dan lainnya. Pameran itu akan memamerkan 28 sektor laksana produk susu dan telur, keju, daging, ikan dan produk hasil laut, buah dan sayuran, produk bakery, bahan-bahan cokelat, kopi dan teh, gelato dan es krim, minuman alkohol dan non alkohol, dan lainnya.

Pada tahun lalu, pengunjung Sial Interfood mayoritas berasal dari Malaysia, Singapura, Tiongkok, Jepang, Taiwan, dan Thailand. ketika tersebut ada 60 ribu pengunjung yang berasal dari 72 negara. Pameran yang diduga menarik 82 ribu pengunjung dengan ditargetkan menjangkau transaksi kotor Rp 500 miliar.

“Di luar tersebut masih bakal ada transaksi sesudah pameran selesai. Sebab tidak sedikit exhibitor yang tidak memasarkan produk, namun melulu menawarkan sampel guna tes pasar,” kata Daud. (Baca: Teken 84 Kerja Sama, Trade Expo Catat Kontrak Dagang Rp 7,9 Triliun)

Daud menuliskan , makanan dan minuman Indonesia berpotensi dikenal di lingkungan internasional melewati pameran tersebut. Di sisi lain, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang ikut serta bisa memperluasa pasar serta menambah bisnis sampai luar negeri.

Ketua Tim Percepatan Wisata Belanja Kuliner Kementerian Pariwisata Vita Datau Messakh mengatakan, pameran tersebut pun dapat mendorong pariwisata Indonesia. Menurutnya, sejumlah 30-35% turis menghabiskan uangnya untuk sektor makanan dan minuman.

“Sementara, turis datang tidak melulu spending guna makanan dan minuman, tapi pun transportasi hingga hotel,” kata dia. (Baca: Serukan Anti-Proteksionisme, Xi Jinping: Pasar Tiongkok Terbuka Lebar) Ia juga mencatat, rata-rata duit yang dihabiskan oleh satu turis berkisar US$ 1.000-1.500.

Ini artinya, satu turis bisa menghabiskan uangnya pada sektor makanan dan minuman sebesar US$ 450. Di samping itu, ia bercita-cita pameran itu dapat menambah daya saing produk makanan dan minuman dalam negeri. Oleh sebab itu, pameran serupa perlu terus dijaga setiap tahunnya.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Abdul Rochim menyampaikan, industri makanan dan minuman menjadi di antara industri unggulan . Maupun perkembangan ekonomi.

Kontribusi industri ini menjangkau 36,49% terhadap perkembangan industri nonmigas sampai triwulan III/2019. “Diharapkan ekspor industri makanan dan minuman bisa terus meningkat melewati promosi pada pameran-pameran,” kata Rochim.

Please rate this